RSS Feed

Category Archives: Uncategorized

A month ago, I was a bride.
I always thought every bride in every wedding would smile elegantly and gracefully. You know, with a sweet and shy smile under her veil.

But I wasn’t a bride like that. Or rather, I can’t.

Ya ampun cyiinn pas ngeliat foto-foto hari H, gue ampe miris karena gue bukan sekedar ketawa lagi, gue NGAKAK. Mana pengantin yang mestinya elegan dan manis dan anggun dan canteekk? 😂😂😂

And yes, gue bahkan ketawa lepas pas sungkem sama papa mertua yang sebenernya lagi nangis! Sampe akhirnya papa mertua juga ikutan ketawa 😂

Looking at my photos, I think “Heck, apa-apaan sih gue, gak ada cantek-canteknya kali lah jadi penganten”

But I know and I realize, that’s because I was so happy on that day. And I’m happy I was being myself on that day, yang ketawa ngakaklah, yang monyong-monyong ga jelaslah, yang ngasih ekspresi anehlah 🙈😂

I was a happy bride indeed and hopefully I’m gonna have a happy marriage 😊💕

Happy 1 bulanan pernikahan, koko suwam ❤️ Semoga masih akan tetep norak senyum-senyum bangga ya ngeliatin cincin kawin di jari aku 😋

View on Path

AFTER KPP – NOTES TO MYSELF

Koko Taz & Cece Olip

So I proudly tell ya’all bahwa gue dan koko sudah….

…COMPLETED OUR ‘WEDDING PREPARATION COURSE’ alias KPP!

Lol 😀

Sebagai bukti, ini dia sertifikat KPP gue dan koko *pamer-pamer sombong*

10532940_10204565234722565_7494334812943105450_n

Keren kan? Keren kan? Keren dong ya, pasti keren kan. Meheheheh *dilempar pake piala hosti*

Gue seneng banget sih ikut KPP ini, meskipun awalnya skeptis banget karena udah ada 4 orang temen yang memberi kesaksian kalau KPP ini ngebosenin banget. Eh ternyata pas gue dan koko ikut yang di St. Kristoforus – Grogol bulan Desember ini, it turned out quite fun!

Pembicara-pembicaranya membawa materi dengan menyelipkan banyak jokes dan informasi yang mereka share dari pengalaman mereka juga berguna banget semuanya. Yang paling menonjol itu adalah semua pembicara sangat menekankan bahwa ‘perkawinan Katolik hanya satu kali seumur hidup, tidak terceraikan’ 🙂

Jadi beberapa pembicara wanti-wanti banget kalau sebelum merit mesti diomongin dulu semua hal yang ‘berat’ dan ‘serius’. Karena seringkali orang yang masih…

View original post 863 more words

Protected: Friday Ranting

This content is password protected. To view it please enter your password below:

NOT PERFECT

 

Not a perfect guy.

 

But somehow….

His smile warms my heart perfectly.

His laughter brings me joy perfectly.

His silly remarks make a smile curled up on my face perfectly.

His jokes drive me laughing my ass off perfectly.

His annoying expressions irritate me perfectly.

His scolding brings me up to my senses perfectly.

His hand fits my hand perfectly.

His presence radiates happiness to my world perfectly.

 

Not a perfect guy indeed.

 

But his heart…

 

…it completes mine just perfectly.

🙂

Found boyfriend’s old cards today!

Found boyfriend’s 1996/1997 christmas and season greeting cards from his friends.

So when I was thinking how old he was back then, it creeps me out by realizing that on 1996 he was in his first year of senior high school, while I was in my first year of…

 

 

…elementary school.

 

That’s right, ‘Anak kelas 1 SMA’ and ‘Anak kelas 1 SD’ people!!

So I assume when he was flirting with his girl friends, I was still drinking a bottled milk and innocently played dolls with my girl friends!

Lol 😀

 

Funny how that teenager and little girl can fall in love with each other 15 years later, eh?

Life is so full of surprises 🙂

Pengen Cepet-Cepet Cari Kerja? Ntar Lontang-Lantung Loh!

“Duh pengen cepet-cepet selesai kuliah, trus kerja!”

Pas masih kuliah, gue dan temen-temen selalu pengen cepet-cepet lulus. Rasanya pengen segera masuk ke dunia kerja, males dikasih-kasih tugas kuliah lagi, males mesti ikutin kelas-kelas kuliah padahal pengen bobo siang, males jadi objek tatapan seisi kelas waktu grogi bawain presentasi. Rasanya pengen bebas.

Lalu cece (kakak perempuan, in case you are not familiar with this word) gue senyum menyeringai gitu, ngeliat gue dengan tatapan aduh-adek-gue-polos-dan-bodoh-sekali sambil ngomong, “Aku kasih tau yaaa… Nikmatin aja deh masa kuliah selagi bisa. Puas-puasin. Memasuki dunia kerja itu ga seindah bayangan kamu.”

Sekarang, saat adek dan sepupu-sepupu gue pada ngeluh soal kuliah, gue juga nasehatin hal yang sama. Tentu saja dengan tatapan yang sama dan senyum menyeringai yang sama, menertawakan kepolosan mereka.

Setelah lulus, cari kerja itu masa-masa menegangkan, jek! (bukan, bukan ojek)

Talking about that moment, beberapa minggu belakangan di timeline twitter gue sering ada yang mention buku Lontang-Lantung karangan Roy Saputra. Kebanyakan pada bilang buku itu bikin mereka inget sama masa-masa nista saat cari kerjaan.

And you know what? That book really brings me the memories.

Lontang-Lantung

Ari Budiman, berumur 20 something, baru lulus kuliah dan masukin lamaran kerja berbarengan sama temen-temennya.

 

That sounds  like me, few years ago.  Mungkin perjuangan gue cari kerja ngga sampe kayak perjuangan Ari yang seru banget (baca: perasaan kok ya susah beneerrr dapet kerjaan). Mungkin nama gue ga sepasaran itu sampe bisa sama persis dengan orang yang mewawancarai gue.

Tapi… perasaan Ari yang cemas dan khawatir ga dapet-dapet kerjaan, rasa gugup dia setiap kali berhadapan dengan calon employer baru, pikiran yang malah nge-blank saat interview, sampe rasa kesal dan ga mau kalah karena teman seperjuangan mencari kerja tiba-tiba malah terasa sangat nyata sebagai kompetitor, bisa bikin gue ngerasa “OH I’VE BEEN THERE, I’VE BEEN THERE! I KNOW THAT FEELING!”

And you may feel the same way too, bahwa apa yang dialami Ari Budiman ini ‘gue banget’ atau ‘gue pernah ngalemin itu jugak!!’, sampe-sampe rasanya pengen nepuk pundak si Ari dan bilang “I feel you, bro.” Literally.

Perasaan paling ga enak mungkin adalah saat harus merasa ‘saingan’ dengan temen sendiri.

Dih, yang tau duluan kalau perusahaan ini ada lowongan kan, gue. Kok malah lo sih yang keterima?

Lo dapet gaji berapa? *lalu dalam hati bertekad mesti dapet lebih tinggi dari dia*

Lo diterima di perusahaan bonafid itu? Waahh, selamat ya. *Padahal CV lo kan nyontek dari gue, kenapa lo yang kerja duluan?*

 

Iya, iya, childish memang kelihatannya. Tapi jujur saja *sambil malu-malu*, semua itu sempet gue rasain.

Dan semua hal ini, tiba-tiba bikin kangen.

Bukan jenis kangen sama pacar yang bikin gue pengen ngalemin hal yang sama lagi sih. Tapi lebih ke jenis rasa kangen yang membuat gue nostalgia.

 

Baca Lontang-Lantung, secara automatically dan naturally membawa gue kembali mengingat masa saat baru lulus dan mesti cari kerja. Ditambah dengan footnotes gak terlalu penting yang Roy bikin, Lontang-Lantung bikin gue senyum-senyum manis dan cekikikan imut.

Kadang ketawa ngakak, penuh dengan rasa kangen dan syukur karena gue sudah melewati masa itu.

 

Buat yang masih belum kerja, baca Lontang-Lantung mungkin akan bikin parno, “Waduh, jadi nanti pas cari kerja bakal sesusah ini? Bakal disuruh nungging pas interview? Bakal disuruh jualan oli ala adek-adek di Giordano?”

Ngga kok.

 

……Mudah-mudahan ngga. HAHAHA.

 

Well.. Gue sih percaya, seperti salah satu postingan gue,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. – Paulo Coelho

 

Jadi  kalo lagi dalam proses cari kerja, just trust yourself, bring the best of you, and…

Believe that thing happens for a reason.

Maybe you won’t understand it now, while being frustrated looking for a job. But you will.

And maybe all you need to do now is read Lontang-Lantung first. Be thankful that someone out there named Ari Budiman might had it worse that what you’re having right now. (Apa-apaan ini , bersyukur di atas penderitaan orang lain?? Lol)

 

Kalau pembaca  yang budiman udah kerja, percaya deh, Lontang-Lantung bakal bikin lo ketawa-ketawa atau paling tidak, senyum-senyum sendiri sambil nahan tawa (teteup yak, yakin seyakin-yakinnya pasti bakal bikin orang yang baca ketawa :D), inget masa-masa cari kerja.

 

Perasaan gue terhadap buku ini, kalau boleh ngutip dari buku Lontang-Lantung sendiri, adalah,

Kamu lucu. Aku suka 🙂

 

Finalnya buku ini bikin gue menutup buku dengan perasaan puas dan senang. Semacam mengingatkan bahwa pada akhirnya, mau itu cari kerjaan ataupun cari pacar, JADI DIRI LO SENDIRI AJA DEH, SOB!

 

..oke itu sok gaul banget ye. Kalau kutipan keren dari Roy di buku ini adalah,

Live your life. Live your own life.

 

Last, gue ga pinter ngasih tips cari kerja, tapi berdasarkan percakapan dengan HRD dan salah satu GM kantor, punya nama pasaran kadang bisa jadi satu-satunya alasan lo TIDAK diterima kerja. Kenapa? Karena sudah banyak karyawan yang bernama sama dengan lo dalam satu kantor. Dan perusahaan ga mau dibikin pusing dengan banyaknya orang bernama sama.

“Tolong panggil Ari, ada yang perlu saya diskusikan.”

“Ari yang mana, Pak?”

” Ari Budiman.”

“Ari Budiman di bagian Audit, Ari Budiman di bagian Finance, atau Ari Budiman di bagian Marketing, Pak?”

“….Tolong inform HRD saya gak mau ada another Ari Budiman di perusahaan ini.”

 

Jadi kalau lo punya nama pasaran seperti Ari Budiman, mendingan pas interview lo tegesin dulu panggilan yang ‘tidak biasa’ dan ‘mudah diingat’, seperti:

“Nama lengkap saya Ari Budiman. Tapi Bapak/Ibu boleh panggil saya Ganteng. Ah, dipanggil Tampan juga saya nengok.”

source

P.S.: You might want to check this out, kisah di balik editing Lontang-Lantung oleh editornya.

Annoying thing that I love

How you dropped by to my house for a few minutes right after work (and before another part-time work) to hug me and give me one or two pecks on the cheek and lips, just because I’m not feeling well and I miss you and I wanna be hugged so much.

 

That…. is a thing I love.

 

How the scent of your perfume still lingers on my t-shirt afterwards, and it makes me miss you even more.

 

Now that… is annoying 😦

 

 

Image