RSS Feed

Pengen Cepet-Cepet Cari Kerja? Ntar Lontang-Lantung Loh!

“Duh pengen cepet-cepet selesai kuliah, trus kerja!”

Pas masih kuliah, gue dan temen-temen selalu pengen cepet-cepet lulus. Rasanya pengen segera masuk ke dunia kerja, males dikasih-kasih tugas kuliah lagi, males mesti ikutin kelas-kelas kuliah padahal pengen bobo siang, males jadi objek tatapan seisi kelas waktu grogi bawain presentasi. Rasanya pengen bebas.

Lalu cece (kakak perempuan, in case you are not familiar with this word) gue senyum menyeringai gitu, ngeliat gue dengan tatapan aduh-adek-gue-polos-dan-bodoh-sekali sambil ngomong, “Aku kasih tau yaaa… Nikmatin aja deh masa kuliah selagi bisa. Puas-puasin. Memasuki dunia kerja itu ga seindah bayangan kamu.”

Sekarang, saat adek dan sepupu-sepupu gue pada ngeluh soal kuliah, gue juga nasehatin hal yang sama. Tentu saja dengan tatapan yang sama dan senyum menyeringai yang sama, menertawakan kepolosan mereka.

Setelah lulus, cari kerja itu masa-masa menegangkan, jek! (bukan, bukan ojek)

Talking about that moment, beberapa minggu belakangan di timeline twitter gue sering ada yang mention buku Lontang-Lantung karangan Roy Saputra. Kebanyakan pada bilang buku itu bikin mereka inget sama masa-masa nista saat cari kerjaan.

And you know what? That book really brings me the memories.

Lontang-Lantung

Ari Budiman, berumur 20 something, baru lulus kuliah dan masukin lamaran kerja berbarengan sama temen-temennya.

 

That sounds  like me, few years ago.  Mungkin perjuangan gue cari kerja ngga sampe kayak perjuangan Ari yang seru banget (baca: perasaan kok ya susah beneerrr dapet kerjaan). Mungkin nama gue ga sepasaran itu sampe bisa sama persis dengan orang yang mewawancarai gue.

Tapi… perasaan Ari yang cemas dan khawatir ga dapet-dapet kerjaan, rasa gugup dia setiap kali berhadapan dengan calon employer baru, pikiran yang malah nge-blank saat interview, sampe rasa kesal dan ga mau kalah karena teman seperjuangan mencari kerja tiba-tiba malah terasa sangat nyata sebagai kompetitor, bisa bikin gue ngerasa “OH I’VE BEEN THERE, I’VE BEEN THERE! I KNOW THAT FEELING!”

And you may feel the same way too, bahwa apa yang dialami Ari Budiman ini ‘gue banget’ atau ‘gue pernah ngalemin itu jugak!!’, sampe-sampe rasanya pengen nepuk pundak si Ari dan bilang “I feel you, bro.” Literally.

Perasaan paling ga enak mungkin adalah saat harus merasa ‘saingan’ dengan temen sendiri.

Dih, yang tau duluan kalau perusahaan ini ada lowongan kan, gue. Kok malah lo sih yang keterima?

Lo dapet gaji berapa? *lalu dalam hati bertekad mesti dapet lebih tinggi dari dia*

Lo diterima di perusahaan bonafid itu? Waahh, selamat ya. *Padahal CV lo kan nyontek dari gue, kenapa lo yang kerja duluan?*

 

Iya, iya, childish memang kelihatannya. Tapi jujur saja *sambil malu-malu*, semua itu sempet gue rasain.

Dan semua hal ini, tiba-tiba bikin kangen.

Bukan jenis kangen sama pacar yang bikin gue pengen ngalemin hal yang sama lagi sih. Tapi lebih ke jenis rasa kangen yang membuat gue nostalgia.

 

Baca Lontang-Lantung, secara automatically dan naturally membawa gue kembali mengingat masa saat baru lulus dan mesti cari kerja. Ditambah dengan footnotes gak terlalu penting yang Roy bikin, Lontang-Lantung bikin gue senyum-senyum manis dan cekikikan imut.

Kadang ketawa ngakak, penuh dengan rasa kangen dan syukur karena gue sudah melewati masa itu.

 

Buat yang masih belum kerja, baca Lontang-Lantung mungkin akan bikin parno, “Waduh, jadi nanti pas cari kerja bakal sesusah ini? Bakal disuruh nungging pas interview? Bakal disuruh jualan oli ala adek-adek di Giordano?”

Ngga kok.

 

……Mudah-mudahan ngga. HAHAHA.

 

Well.. Gue sih percaya, seperti salah satu postingan gue,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. – Paulo Coelho

 

Jadi  kalo lagi dalam proses cari kerja, just trust yourself, bring the best of you, and…

Believe that thing happens for a reason.

Maybe you won’t understand it now, while being frustrated looking for a job. But you will.

And maybe all you need to do now is read Lontang-Lantung first. Be thankful that someone out there named Ari Budiman might had it worse that what you’re having right now. (Apa-apaan ini , bersyukur di atas penderitaan orang lain?? Lol)

 

Kalau pembaca  yang budiman udah kerja, percaya deh, Lontang-Lantung bakal bikin lo ketawa-ketawa atau paling tidak, senyum-senyum sendiri sambil nahan tawa (teteup yak, yakin seyakin-yakinnya pasti bakal bikin orang yang baca ketawa :D), inget masa-masa cari kerja.

 

Perasaan gue terhadap buku ini, kalau boleh ngutip dari buku Lontang-Lantung sendiri, adalah,

Kamu lucu. Aku suka 🙂

 

Finalnya buku ini bikin gue menutup buku dengan perasaan puas dan senang. Semacam mengingatkan bahwa pada akhirnya, mau itu cari kerjaan ataupun cari pacar, JADI DIRI LO SENDIRI AJA DEH, SOB!

 

..oke itu sok gaul banget ye. Kalau kutipan keren dari Roy di buku ini adalah,

Live your life. Live your own life.

 

Last, gue ga pinter ngasih tips cari kerja, tapi berdasarkan percakapan dengan HRD dan salah satu GM kantor, punya nama pasaran kadang bisa jadi satu-satunya alasan lo TIDAK diterima kerja. Kenapa? Karena sudah banyak karyawan yang bernama sama dengan lo dalam satu kantor. Dan perusahaan ga mau dibikin pusing dengan banyaknya orang bernama sama.

“Tolong panggil Ari, ada yang perlu saya diskusikan.”

“Ari yang mana, Pak?”

” Ari Budiman.”

“Ari Budiman di bagian Audit, Ari Budiman di bagian Finance, atau Ari Budiman di bagian Marketing, Pak?”

“….Tolong inform HRD saya gak mau ada another Ari Budiman di perusahaan ini.”

 

Jadi kalau lo punya nama pasaran seperti Ari Budiman, mendingan pas interview lo tegesin dulu panggilan yang ‘tidak biasa’ dan ‘mudah diingat’, seperti:

“Nama lengkap saya Ari Budiman. Tapi Bapak/Ibu boleh panggil saya Ganteng. Ah, dipanggil Tampan juga saya nengok.”

source

P.S.: You might want to check this out, kisah di balik editing Lontang-Lantung oleh editornya.

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

6 responses »

  1. I-am-impressed. Duh guna banget sih ci. Sorry banget baru cek blog lagi. Wohooooo!♥

    Like

    Reply
  2. Pingback: Akhir #PawaiLontangLantung | @saputraroy

  3. Live your life. Live your own life. 🙂

    Message yang paling aku suka dari Lontang Lantung 🙂

    Like

    Reply
  4. Kalau nama panggilan kamu siapa ? “Cantik” atau “masa depan”

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: