RSS Feed

Dear diary, after my sister’s wedding..

“Namanya juga hidup. Kadang di atas, kadang di bawah.”

 

Mungkin itu, kalimat pertama yang kemudian bikin cece (kakak perempuan) gue bener-bener memperhatikan ‘bapak-bapak’ yang sebenernya lagi ngeledekin dia.

Mereka hampir tiap hari bertemu, di dalam angkutan umum yang tujuannya ke Muka Kuning, kawasan industri di Batam. Cukup sama-sama tahu saja, “Oh dia lagi, dia lagi.”

Di dalam angkutan umum itu, ada kursi tambahan yang lebih pendek dari kursi asli mobil, supaya penumpang yang bisa muat di dalam mobil jadi lebih banyak. Suatu hari, cece kebagian kursi itu. Dan saat itulah, ‘bapak-bapak’ tersebut melontarkan ledekan tersebut. Selang beberapa hari (atau minggu?) setelahnya, ternyata gantian bapak tersebut yang kebagian duduk di kursi tambahan.

Kalau bahasa anak twitter, ibarat nomention, kali ini giliran cece yang seakan-akan ngomong sendiri,

“Yah, namanya juga hidup. Kadang di atas, kadang di bawah.”

Long story short, setelah itu mereka sering diledekin oleh penumpang-penumpang lain, lalu akhirnya dari ledekan-ledekan tersebut mereka memutuskan untuk berpacaran.

 

Itu, cerita yang selalu gue inget dari cece mengenai awal dia mulai ‘interested’ dengan seorang pria yang 10 tahun lebih tua dari dia. Seorang ‘bapak-bapak’ yang kemudian gue panggil Mas Kris.

Hubungan gue dan cece itu dekat. Mungkin karena jarak usia 6 tahun di antara kita. Mungkin karena kita sama-sama perempuan. Entahlah. Yang jelas, dari kecil, gue ngerasa gue selalu lebih ngikutin dia dibanding mamah. Karena cece Katolik, gue juga selalu mengaku-ngaku pada orang lain bahwa gue Katolik. Padahal saat itu gue masih SD kelas 1, ngerti agama aja kagak. Padahal mamah yang Kristen Protestan selalu ngajakin gue sekolah minggu di gerejanya, tapi tetep aja ke mana-mana gue selalu bilang bahwa gue Katolik.

Pertama kali mendapati celana dalem gue ada bercak merah tanda akil balig, orang pertama yang gue kasitau adalah cece. Bukan mamah, seperti temen-temen cewek lainnnya yang pasti akan langsung mencari ibunya. Bukan karena gue ga dekat dengan mama, tapi entah kenapa refleks kalo ada apa-apa gue selalu kasitau cece duluan.

Saat cece ke Jakarta untuk kuliah, gue nganterin dia ke airport sambil ketawa-ketawa. Sama sekali ga ngerasa sedih.

Biasanya kita sering menonton serial tv berdua malam-malam. Malam pertama gue nonton serial tv tanpa dia, saat ada adegan lucu, gue spontan melihat ke sofa tempat dia biasa tidur-tiduran sambil nonton. Sambil menoleh dan masih sambil ngakak, gue bilang “HAHAHAHAHA, lucu ya ce-” lalu terdiam melihat sofa yang kosong.

Yah. Dia udah di Jakarta.

Gue kembali ngeliat ke arah TV .

Setelah itu, gue nonton sambil nangis.

Kadang kita berantem. Saling ga mau kalah, memaksakan argumen masing-masing. Kadang gue marah-marah penuh rasa kesal, kadang cece yang teriak-teriak emosi jiwa karena sebal.

Tapi seringnya, kita menertawakan hal yang sama. Membagi cerita yang sama. Saling mendengarkan cerita-cerita konyol yang kita alami atau kita dengar dari orang lain. Saling sharing gosip.

 

Mas Kris adalah pacar pertama cece. Karena itu gue baru pertama kalinya merasakan cece sering jalan-jalan dengan pria ya baru saat dia pacaran dengan Mas Kris. Lalu gue beberapa kali mengucapkan hal-hal sinis. Saat itu, gue sendiri juga kurang sadar kenapa. Jadi gue ga inget, sampe akhirnya beberapa tahun kemudian cece menceritakan betapa dia sempat merasa sedih saat mendengar ucapan sinis gue dulu.

FEELING GUILTY, BOK!

hahahaha.

Mamah menghibur dan bilang bahwa mungkin gue jealous. Karena dulu mamah juga pernah rada kurang hepi saat melihat cecenya berpacaran, kata mamah. I think to myself, yes, maybe I was jealous.

Setelah pacaran hampir 7 tahun, Sabtu kemarin they finally tied the knot.

It was all happiness and joy throughout the day. And I thank God for that. He blessed us, gave us health to enjoy every moment, and I love to see how gorgeous my sister was. She was truly the star of the day. She shined.

(well, my mom was super beautiful too, but still, I think we have to focus on the bride. lol.)

But on the next day, when I had to go back to Jakarta, in Juanda Airport we said goodbye.

We hugged each other and that moment, I know I was about to cry. I was trying to hold it in when cece said ‘Geez, why do I feel like I want to cry?’

And while saying ‘..me too..’, I started to cry.

She cried too. 

“Apaan sih kita, kayak ada yang mau mati aja.”

Then we both laughed while crying, realizing how silly we were.

 

I always thank God of how close we are, and how in our family we can love and beloved.

 

Now I’m not jealous to Mas Kris or sowhateever. I fully realize that I didn’t lose a sister, because, my family get a new member instead. Now I have a brother-in-law, and hopefully, a niece/nephew soon.

 

So, welcome to the family, cichong! 😀

P.S. : Cichong adalah panggilan untuk suami dari kakak perempuan dalam bahasa Khek.

 

combined siblings

family 1

During Tea Ceremony
During Tea Ceremony

I haven’t got all the pictures yet but so far I’m happy and excited to see how well the photographers took our photos.

Thanks to Pak Ranan Samanya and Mas Andri Priyatna Putra 😀

http://rsamanyaphoto.wordpress.com & http://andriphoto.wordpress.com/

 

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

7 responses »

  1. I just read this post. Why don’t you tell me that you have written this ?
    And i read it, at the same time, crying also (i’m so easily crys or laughs, dunno its a good thing or not)..so toucheeeeddd…
    Or maybe it’s already near my period. =D

    Love you to max. *hugs*

    Like

    Reply
  2. “Di dalam angkutan umum itu, ada kursi tambahan yang lebih pendek dari kursi asli mobil”

    Gw baca sepintas dan kurang ngeh , tiba-tiba ketika sedang membaca kalimat berikutnya , ngakak menjadi-jadi, baru teringat akan bangku tambahan di pinggir pintu yang sering menjadi tempat peristirahatan bokong ini semasa smp dulu 🙂

    Well, selamat buat pernikahan kakaknya and salam kenal , juga ijin untuk nge-bookmark ini blog – kadang gw suka baca-baca blog orang kalo lagi belum bisa tidur , kadang bisa membawa tidur lebih damai.

    PS: Update-nya yang rajin yah , kalo enggak bisa kehilangan tempat di list bacaan malem gw (ngancem gini :D)

    Like

    Reply
  3. Febrina Pasaribu

    oliiippp….kita kebalik…
    minggu lalu aku kesepian gara2 adek bontot ke jkt seminggu utk tes…aiihh sepi bgt rumah itu…kyk ada penunggunya -___-

    Like

    Reply
  4. Wew, gw pernah ngerasain begitu tp skrg ga lg 😀

    Btw, kalian mirip yahhh hihihi

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: