RSS Feed

Monday Morning

Pagi ini gue bangun dengan segar tapi perasaan gue agak kesel sama salah satu temen. Eh, kesel aja deh. Gak pake agak. Makin gue inget kejadian semalem yang bikin gue sebel sama temen itu, makin gue merutuki dalam hati “Tolol banget sih tuh orang!” Semalaman gue merasa dituduh dan gak habis pikir kenapa dia bisa sebodoh itu. Gue udah yakin bahwa gue akan melalui hari Senin gue dengan merasa sebal terus-terusan.

Tapi hal simpel kadang terjadi dengan cara yang tak terduga sebelumnya, lalu bisa membuat hari kita menjadi berbeda.

Dalam perjalanan ke kantor, di dalam bus 213 yang hampir selalu desek-desekan, gue berdiri deket abang supir. Di Slipi, penumpang yang naik banyak banget, abang kondektur mulai ngatur-ngaturin supaya bus bisa memuat lebih banyak orang. (Salah satu kebiasaan kondektur bus yang bikin gue pengen jedotin pala mereka adalah saat penumpang dalam bus udah overlimit sampe napas aja rasanya susah, mereka masih aja teriak-teriak ke calon penumpang “KOSONG KOSONG KOSONG!”)

Abang supir dan kondektur pagi ini beda dari biasanya. Lebih muda dan lumayan cakep (subjektif sih yaaaa) Gue bisa bilang ‘beda dari biasanya’ karena gue selalu naik bus di jam yang kurang lebih sama, supir dan kondekturnya juga biasanya itu-itu aja. Kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak, malah ada kondektur yang udah pantes disebut kakek-kakek.

Kembali ke abang supir dan kondektur pagi ini yang sebelas-dua belas lah dengan anggota band lokal, yang untuk selanjutnya dalam postingan ini mari kita sebut Abang S dan Abang K. Biar lebih akrab aja rasanya. (Iyain aja apa kata gue)

Di tengah kesibukannya ngatur-ngatur penumpang yang lagi berdiri supaya jadi 3 baris, Abang K meminta salah satu bapak untuk bergeser ke tengah bus biar calon penumpang lainnya bisa naik. Bapak itu membalas dengan nada kesal, “Udah gak muat!!” padahal ada jalan yang cukup lega untuk si bapak bergeser ke dalam.

Abang K terpancing emosi dan nyautin “Apanya yang gak muat pak?! Ini ada jalannya lebar begini! Bapak tinggal geser aja ke dalam!”

Si bapak juga membalas tak kalah serunya, gue lupa ngomong apa, pokoknya ngomel-ngomel ngebentak si abang K balik. Mendengar dan melihat kejadian itu, abang S dengan tenang dan gantengnya bilang, “Udah.. Udah… Masih pagi loh ini. Maaf ya bapak… Geser ke dalem aja yuk, biar yang lain bisa masuk. Kan sama-sama mau kerja.”

Si bapak masih ngedumel tapi kemudian bergeser ke dalam. Lalu si abang K dengan suara yang gue percaya seisi bus bisa denger, meminta maaf ke si bapak.

Simpel ya rasanya? Seperti salah satu bagian kecil dalam hidup yang tidak terlalu bermakna, lewat begitu saja seperti ketika kita melihat bus transjakarta berhenti mengangkut penumpang, atau melihat ibu-ibu ringkih di lampu merah meminta-minta sambil gendong anak. Kejadian yang segera terlupakan dalam hitungan detik.

Tapi buat gue pagi itu, hal barusan seakan mengingatkan gue ‘Sesulit itukah menahan emosi dan memaafkan seseorang?’

Untuk abang S dan abang K yang kerjanya setiap hari kepanasan dan menghadapi kemacetan kota Jakarta, mereka bisa saja memarahi balik penumpang karena dianggap tidak bisa diajak bekerja sama. Terlebih lagi, pekerjaan mereka bisa menjadi alasan agar kita memaklumi temperamen emosian para supir dan kondektur. Nyatanya, abang S dan K bisa minta maaf, hal yang kadang sering kita anggap remeh. Mereka – yang menurut teman gue dan mayoritas masyarakat menengah ke atas lainnya – biasanya orang-orang kurang berpendidikan saja bisa berbesar hati meminta maaf loh. (Gue yakin bukan karena takut kehilangan penumpang karena bus 213 tidak pernah sepi penumpang.)

Lah gue yang sekolah ampe ke perguruan tinggi, ngantor di salah satu gedung di Jl. Sudirman, setiap hari duduk di ruangan berAC, masa bisa ampe ngerasa susah untuk nggak marah-marah? Bisa ampe ngerasa susah untuk memaafkan seseorang?

Rasanya kok ya… gak pantes. Rasa gerah dan cape itu sering menjadi alasan sehingga kita mudah menjadi kesal dan sulit memberikan maaf apalagi mengaku salah. Mereka mungkin sudah mulai kerja dari subuh, sedangkan gue masih wangi, cantik dan siap untuk merasakan hawa dingin AC menerpa muka gue saat masuk ke dalam gedung kantor. Tapi kok malah gue yang nyimpen rasa kesel dan marah-marah?

Hari ini hari Senin. Biasanya orang-orang benci hari Senin.

Tapi hari Senin kali ini gue diingatkan akan hal yang penting.

Meminta maaf dan memaafkan itu seringkali terasa sulit. Apalagi untuk gak marah-marah sama orang yang bikin kita gemes dan geram dengan ‘kebodohannya.’

Tapi bila ingin dimaafkan, maka sudah seharusnya juga kita memaafkan,

 

…dan berhenti marah-marah.

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

One response »

  1. Pingback: Bahagia yang sederhana | Vivi's Drawer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: