RSS Feed

Di Atas Normal

Aku menghempaskan punggungku ke kursi dengan kesal. Sudah dua jam aku menunggu seperti orang bodoh dan dia belum datang juga. Kesal, dongkol, rasanya ingin teriak-teriak memarahinya karena membiarkanku menunggu begitu lama.

Sudah kucoba untuk meneleponnya dan tidak ia angkat. Mungkin masih di jalan, aku menghibur diriku sendiri di dalam hati. Sudah belasan kali kalimat itu kuucapkan dalam hati agar dapat menahan diri untuk menunggu lebih lama lagi. Aku yakin dia pasti datang, bukan tipenya untuk ingkar janji tanpa kabar.

Pikiranku tak dapat ku mengerti
Kaki di kepala, kepala di kaki

Pikiranku patutnya menyadari
Siapa yang harus dan tak harus ku cari

Kafe kecil ini memutar lagu yang membuatku tersenyum mendengarnya. Sejenak aku lupa dengan rasa kesalku, lalu mengingat bagaimana biasanya aku dan dia selalu menyanyikan lagu ini dengan kencang sambil berlompatan di atas tempat tidurnya.

Kami memeluk guling dan berpura-pura guling tersebut adalah sebuah mic, kemudian menyanyikan lagu itu sambil separuh menjerit.

Ooo…Ku mencari sesuatu yang telah mati
Ku mencari hati yang tlah ku benci

Ooo… Ku mencari sesuatu yang tak kembali
Ku mencari hati yang ku benci

Setelah lelah berteriak-teriak menyanyikan lagu itu sambil tertawa, kami akan menghempaskan diri kami ke tempat tidur. Melanjutkan tawa kami sambil bergandengan tangan.

Itu sudah lama sekali, sudah hampir setahun yang lalu terakhir kami melakukan hal itu.

Tepatnya sejak ia mulai berpacaran. Aku melengos sebal mengingat wajah pacarnya. Selalu kucoba untuk memaklumi perasaan Rizky yang menggebu-gebu, mengingat ini pertama kalinya ia berpacaran. Wajar, kataku dalam hati. Tidak apa-apa, tegasku dalam hati.

Pada akhirnya sahabat itu tak tergantikan. Lovers come and go but best friends stay forever. Begitu kan katanya? Aku percaya, Rizky tak akan berubah. Masih sama, masih akan menemaniku jalan-jalan mencari kalung yang lucu, masih akan mengomentari setiap warna kuteks yang aku kenakan.

Tetapi kenyataan kemudian menamparku keras. Berkali-kali ia menolak ajakanku untuk jalan-jalan karena ia mau keluar bersama pacarnya. Berkali-kali pula ia hanya tertawa mendengarku yang sinis, “OH GITU? Habis manis, sepah dibuang ya. Udah punya pacar, gue dilupain ya. Bagus bener lo!”

“Dih, jangan marah-marah sih, hahaha. Gue udah terlanjur janji bakal nemenin dia nyari iPad. Lo ikutan gue aja yuk.”

“Ogah. Read my lips, o ge a ha, OGAH!”

“HAHAHAHA, goblok lo. Mana bisa gue read your lips, kita kan lagi telponan. Makanya ketemuan yuk, baru bisa deh tuh gue baca bibir lo.”

“Gak! Lo kan tau gue gak suka keluar bareng lo ama pacar lo? Emang gue cewek apaan?”

“Apaan emangnya?” Rizky meledek.

“HIH! Udah ah, gue dipanggil eyang!” Sebal, aku mengakhiri pembicaraan dan melempar handphoneku ke tempat tidur. Aku benci dengan pacarnya. Benci. Ia merebut Rizky.

Padahal hanya Rizky yang bisa memahami sifatku. Hanya Rizky yang bisa membuat aku tertawa di saat aku lagi bête. Hanya Rizky yang tahu apa yang aku suka. Hanya Rizky yang mengerti aku dengan latar belakang keluargaku yang kacau dan berantakan. Hanya Rizky yang aku punya.

Sesuatu yang baru ku sadari
Kau tinggalkanku tanpa sebab yang pasti

Sesuatu yang harusnya terjadi
Kau sakiti aku, kau yang harus ku benci

Aku selalu berangan-angan ingin mengurung pacarnya, lalu pelan-pelan menyiksa sampai ia berjanji tidak akan mendekati Rizky lagi.

Suatu hari akan kuwujudkan angan-angan itu. Rizky harus kembali jadi Rizky yang dulu.

Nanti begitu Rizky sampai, aku akan menanyakan padanya, siapa yang lebih penting. Aku atau pacarnya. Dia harus memilih salah satu dan menyadari bahwa bila dia memilih pacarnya, berarti aku akan membencinya seumur hidup.

Sekarang pun sebenarnya aku ingin benci padanya, tapi aku belum bisa. Aku baru sebal saja.

Lihat saja sekarang, sudah 90 menit aku menunggu dan masih belum ada kabar sama sekali dari Rizky. Padahal sudah lama kita tidak memiliki waktu berdua untuk sekadar makan malam bersama seperti ini.

Handphoneku berbunyi. Ada telepon dari Thomas. Ih, ngapain pacar Rizky tiba-tiba telepon?

Angkat, tidak, angkat, tidak. Aku bimbang karena malas mendengar suara laki-laki yang sudah merebut sahabatku. Ah, bisa saja itu Rizky yang meneleponku dari handphone Thomas.

“Halo.” Malas-malasan aku menjawab.

“Ira??” Suara bass Thomas terdengar di ujung telepon.

“Iyeh. Napa lo nelpon?”

Kemudian Thomas menjelaskan dan perlahan suaranya mulai terdengar tidak jelas. Pandanganku pun mulai kabur, tertutup air mata yang perlahan menggenang. Di dalam hati ada perasaan marah yang membuncah dan ingin meledak.

“GAK MUNGKIN, LO BOHONG!!!” Jeritku histeris.

Lalu semuanya gelap.

***

Aku terduduk di depan nisan baru, ada guratan nama sahabatku di situ. Alina Rizky Pramudi, perempuan yang aku kira akan bersamaku selamanya. Perempuan yang pernah membuatku berjanji untuk menjodohkan anakku dengan anaknya, kelak.

Ia mengalami kecelakaan saat buru-buru ingin bertemu denganku, malam itu. Nyawanya tidak tertolong karena kepalanya menghantam aspal dengan keras saat jatuh.

Tiba-tiba semuanya terlihat menggelikan. Mungkin ini jalan Tuhan agar Thomas tidak lagi bersama Rizky. Mungkin ini memang jalan Tuhan untuk mengabulkan doaku.

Aku tertawa sambil mengeluarkan silet yang memang sudah kusiapkan di saku celana.

Kemudian tersenyum menatap nisan Rizky sambil menekankan silet tersebut ke pergelanganku.

Ooo… Ku mencari sesuatu yang telah pergi
Ku mencari hati yang ku benci

Ooo… Ku mencari sesuatu yang tak kembali
Ku mencari hati yang ku benci

Ooo… Ku mencari tetap tak kutemui
ku mencari hati yang ku benci

 

 

Jakarta, 8 Agustus 2012

Godeliva Olivia Darmawati – #CerpenPeterpan

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: