RSS Feed

antara Raditya Dika dan gue (bukan, gue bukan mantannya)

Tanggal 23 Desember 2011 malem, gue ke Gramedia Puri Indah Mall cuma untuk mesen buku Manusia Setengah Salmon, yang ditulis oleh penulis paling unyu sedunia akhirat: Raditya Dika. Besoknya saat gue megang buku itu, ada perasaan seneng dan excited yang gue sendiri ga mengerti (bukan, bukan karena gue abis nyimeng).

Sebagai salah satu pembaca Dika yang ‘tumbuh’ bersama buku-bukunya, sedikit banyak gue juga mengikuti perkembangan kehidupan Dika. Dia yang kuliah tapi ga lulus-lulus (sekarang udah lulus sih, untungnya), dia yang sering berangkat keluar kota pagi-pagi buta, adek bungsunya yang makin gede makin ganteng, sampe update status relationshipnya ‘oh, sekarang ama si ini’, ‘oh, udah putus, dan wow sekarang dia ama yang anu’, ‘oh, dia balikan ama si ini’. Meski ga bermaksud sengaja kepo tapi dengan membaca blognya dan follow twitternya sudah memberikan informasi-informasi itu, dan hal ini justru membuat gue merasa ‘dekat’ dengan Dika (I start to find myself very creepy at this point).

Gue selalu bisa jatuh cinta dengan cara Dika bercerita, terutama ketika dia selalu bisa membuat gue tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik banyolannya, gue lebih jatuh cinta lagi saat membaca cerita Dika yang memberikan pasca-effect perasaan melankolis. Seperti yang pernah ia katakan di salah satu postingannya di blog, barangkali Dika selalu menuliskan perasaan terkuat yang sedang ia rasakan. Sehingga saat dia lagi deeply in love, gue bisa senyum-senyum bahagia baca ceritanya, seakan-akan gue juga sedang merasakan kejatuhan cinta 🙂

Begitu pula saat Dika baru putus dan menuliskannya di blog/ buku. Samar-samar gue bisa merasakan perasaan nyess di dada saat membaca hasil tuangan perasaannya. Bab ‘Di Balik Jendela’ di buku keduanya (Cinta Brontosaurus), sejauh ini adalah bab favorit gue.

Membaca bab itu, paling pas sambil duduk di cafe minum hot chocolate, mandangin hujan dari balik jendela dan dengerin slow jazz. Habis itu tinggal bunuh diri karena over dosis rasa galau.

Di buku terbaru ini, bab favorit gue adalah ‘Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat’. Gue terutama jatuh cinta pada bab ini adalah saat gue lagi hanyut dalam perasaan melankolis, Dika tetap bisa membuat gue ngakak. How can you not love this guy?

Membaca buku Dika seperti menemukan tempat pelarian saat gue butuh tertawa, merubah mood gue menjadi lebih baik, dan memiliki perspektif lain dalam melihat suatu hal/kejadian (contohnya dalam bab ‘Kasih Ibu Sepanjang Belanda’ di buku Manusia Setengah Salmon, mengenai kemandirian dan hubungan dengan orang tua).

Gue juga ga kaget kalau ternyata ada pasangan yang pacaran karena sama-sama suka baca buku Raditya Dika 😀

 

Sekarang setelah buku keenamnya keluar, gue yakin loyal readers yang lain juga sama seperti gue, sudah mengharapkan buku ketujuhnya.

Raditya Dika, please keep on writing. Since your writings create happiness 🙂

 

 

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

2 responses »

  1. I see now why your style writing like him 🙂 inspired by him.

    Like

    Reply
    • really? I find nothing alike between my writing and his :p He is inspiring, but my writings are generally inspired by a lot of other blog writers (most of them are women) and my mood, of course 🙂

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: