RSS Feed

Jadilah kucing yang pintar

I’ve been discussing about ‘telling the past’ recently.

Pembicaraan-pembicaraan itu lebih mengarah ke hubungan antara pria dan wanita, semacam mencoba menjawab pertanyaan ‘penting gak sih gue ceritain masa lalu gue ke pasangan?’

 

Masa lalu itu sesuatu yang kompleks.

Hal yang sudah berlalu, sudah terlanjur terjadi, sudah tidak bisa dirubah, dan harus lo terima seperti apapun cerita di dalamnya.

Terkadang ada harapan agar kita bisa menghapus bagian-bagian tertentu dari masa lalu itu. Menjadikannya tiada. Mungkin karena rasa malu, atau karena marah, atau karena benci, atau karena sedih.

Terkadang juga berharap supaya bisa kembali ke masa lalu tersebut, mengubah beberapa atau bahkan semua hal. Seperti menggunting bagian yang menurut kita kurang bagus, lalu menjahitkan kembali potongan yang lebih indah. Lebih bagus, menurut kita.

Namun ada juga bagian dari masa lalu yang ingin kita simpan rapat-rapat, kita genggam erat seperti tali balon di tangan anak kecil. Agar sewaktu-waktu dapat kita lihat lagi. Kita nikmati.

Agar dapat mengingat lagi samar-samar bau yang pernah kita hirup, suara yang pernah kita dengar, pemandangan yang membuat hati tersenyum bahagia, atau sentuhan-sentuhan yang menciptakan sensasi tersendiri.

 

“Masa lalu orang itu membuat kita jadi menciptakan judgement. Kita merasa bisa menilai orang lain dari cerita masa lalunya.” – LCS, 30 tahun, pria, merasa bahwa ga perlu mengetahui masa lalu orang lain. Kita hidup untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Apa yang akan lo lakukan kalau ternyata calon suami lo saat ini mantan narapidana? Didakwa atas pembunuhan pula? Lo bisa ga tetap melanjutkan pernikahan tanpa merasa was-was? Tanpa prasangka apapun?

yes, you’d probably said you love him.

Tapi setelah mengetahui masa lalu seseorang, apakah lo bisa yakin bahwa perasaan cinta lo akan tetap sama besarnya? Apakah lo yakin pada diri lo sendiri, bahwa lo ga akan ilfil, ga akan jijik, ga akan marah, ga akan kesel, ga akan kebayang-bayang?

Orang yang masa lalunya ternyata pernah aborsi misalnya, apakah dengan demikian kemudian kita bisa menilai bahwa orang tersebut tidak bisa menghargai kehidupan?

Kemudian menganggap orang tersebut akan melakukan hal yang sama lagi di masa yang akan datang? We don’t even know what’s behind the story. What drove them to did that way.

We don’t know, yet we acted like we do. We judge.

 

“Masa lalu itu sesuatu yang kita share karena kita percaya. Percaya pada orang itu untuk menerima kita apa adanya, satu paket sama si masa lalu.” – DMY, 22 tahun, perempuan, memaksa ingin mengetahui cerita masa lalu pasangannya agar dapat merasa ‘diterima’ di dalam hidup dan dunia pasangannya.

Dengan menceritakan masa lalu, dari yang indah sampai yang memalukan, dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan, kita menunjukkan hal-hal dalam kehidupan kita.

Ibaratnya sebuah rumah, ketika kita mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalamnya, kita akan memperlihatkan bagian-bagian dari rumah tersebut.

Bila hanya sekadar kenalan biasa, sampai ruang tamu aja cukup. Kalau teman baik, mungkin dapur, kamar tidur tamu, dan ruang keluarga juga diperlihatkan. Tetapi kalau seseorang yang pengen lo ajak hidup bareng sampai uzur? Seseorang yang pengen lo ajak hidup bareng di rumah itu sampai kalian tertatih-tatih dimakan usia?

Apakah lo akan terus menutup satu pintu, dan mewanti-wanti agar pasangan lo ga membuka pintu tersebut?

Ketika lo memberikan kunci ke pasangan lo untuk membuka dan melihat apa yang ada di dalam ruangan itu, lo percaya sama pasangan lo. Lo tau bahwa setelah dia tahu apa yang ada di dalamnya, meskipun itu sesuatu yang memalukan atau menjijikan tentang lo sekalipun, dia bisa menerima hal itu sebagai bagian dari ‘rumah’ lo.

Seperti menerima masa lalu sebagai bagian dari diri lo.

 

Kayak kata gue tadi, masa lalu itu kompleks.

Tapi apakah ada benar atau salah dalam menilai masa lalu? Setiap orang memiliki caranya tersendiri, I guess.

Dan seperti salah satu hasil diskusi gue dengan salah seorang teman, “Kalau belum yakin lo bisa nerima kenyataaan yang worst, jangan tanya-tanya masa lalu.”

Mau tau itu wajar, tapi kalau lo ga bisa menangani keingintahuan itu dengan baik, dia akan menjadi senjata yang menghancurkan kebahagiaan lo.

Curiosity kills the cat.

meow.

Jadi, mau menceritakan masa lalu atau tidak, tergantung seberapa besar lo percaya ama pasangan lo. Seberapa yakin lo sama dia, bahwa meskipun masa lalu lo itu super buruk, s/he’ll still stand by you.

Mau diceritakan masa lalu atau tidak, tergantung seberapa siap hati lo untuk menerima kenyataan terburuk sekalipun. Seberapa yakin lo bahwa setelah tau masa lalu itu, lo masih bisa tersenyum dengan tulus dan mencintai tanpa prasangka?

 

curious itu boleh. just don’t get killed.

Advertisements

About Godeliva Olivia

loves reading, sweet iced tea, and good laugh.

One response »

  1. Masa lalu dijadikan pelajaran aja untuk lebih baik kedepannya,selain pelajaran matematika dan bahasa Indonesia šŸ˜€

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: